Diare Pada Anak

Diare merupakan suatu kondisi ketika feses menjadi lembek atau cair dan frekuensi buang air besar meningkat, biasanya 3 kali atau lebih dalam sehari. Diare pada anak dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti infeksi, keracunan makanan, alergi makanan atau susu, penyerapan yang kurang baik atau bahkan gangguan daya tahan tubuh. Kondisi ini terlihat sepeleh, namun dapat membahayakan jika tidak ditangani dengan benar. Pada kasus keracunan, diare merupakan kompensasi tubuh untuk mengeluarkan zat asing dari tubuh, namun efek merugikannya adalah tubuh kehilangan banyak cairan. Kekurangan cairan atau dehidrasi merupakan komplikasi yang sering terjadi, dan dapat membahayakan nyawa anak.

Oralit merupakan terapi rumahan yang sangat bermanfaat bagi pasien diare. Oralit merupakan campuran garam dan gula yang berfungsi untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang keluar saat diare. Oralit dapat diperoleh di Apotek, toko obat, puskesmas, rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya. Cara pembuatannya pun sangat mudah. 1 bungkus oralit dimasukkan ke dalam segelas air matang sebanyak 200 ml. Pemberian pada anak usia <1 tahun adalah 50-100 ml oralit setiap BAB dan untuk anak usia >1 tahun diberikan 100-200 ml oralit setiap BAB. Oralit juga dapat dibuat di rumah dengan mencampurkan 1 sendok teh gula pasir dengan ¼ sendok teh garam dan ditambahkan 200 ml air matang.

Selain oralit, suplemen Zinc juga berperan penting dalam kasus diare pada anak. Zinc harus digunakan selama 10-14 hari berturut-turut walaupun diare sudah berhenti. Zinc dapat membantu penyembuhan diare dengan memperbaiki mukosa usus yang rusak dan meningkatkan daya tahan tubuh anak. Risiko keterulangan diare dalam 2-3 bulan lebih rendah pada anak yang menggunakan Zinc dibandingkan tanpa pemberian Zinc.

Nah, untuk para Ayah dan Bunda yang sering menggunakan antibiotik jika anak diare, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu ya, karena tidak semua diare disebabkan oleh infeksi bakteri. Hampir sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh virus, yang tentunya tidak akan berefek jika diberikan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat malah akan menimbulkan masalah baru, seperti risiko alergi, gangguan bakteri baik di saluran cerna dan risiko resistensi antibiotik. Selain itu, antibiotik merupakan golongan obat keras yang harus diperoleh dengan resep dokter. Jadi, jangan menggunakan antibiotik bila tidak dianjurkan oleh dokter ya Sobat.

 

Sumber:

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI. Buku Saku Petugas Kesehatan: Lintas Diare. Departemen Kesehatan RI; 2011. 1–40 p.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *